Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hal Hal Yang Menghilangkan/mengurangi/merusak Pahala Puasa Ramadhan/Sunah


Hal Hal Yang Menghilangkan/mengurangi/merusak Pahala Puasa - Puasa Ramadhan memiliki keutamaan yang sangat besar. Bisa menghapus dosa di masa lampau, menjadi perisai dan api neraka, serta membuat orang yang melaksanakannya menjadi berbahagia saat berjumpa dengan Allas SWT. Namun di balik rahmat dan anugrah dalam menjalankan puasa, ada pula beberapa perkara yang dapat menghilangkan pahala puasa. Puasanya secara hukum tetap sah dan diterima, namun tidak bernilai alias sia-sia. Sehingga keutamaan-keutamaan piasa tersebut tak bisa diraih.
Rasulullah SAW bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, ia tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini menggambarkan ternyata ada pula orang yang puasanya sia-sia, puasanya tidak berpahala. Jumlahnya pun tak sedikit. Untuk menghindari kesia-siaan puasa di Ramadha n kali ini, ada baiknya kita menyimak apa saja perkara-perkara yang dapat menghilangkan dan mengurangi pahala puasa.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya serta kebodohan, maka Allah tidak butuh kepada perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum” (HR. Al Bukhari)

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimat “Allah tidak butuh kepada perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum” adalah Allah tidak menerima puasanya. Pahalanya terkurangi atau bahkan hilang sama sekali. Puasanya sia-sia, tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar saja.

Dalam hadits ini hanya disebutkan tiga hal: az zuur, al ‘amala bizzuur, dan al jahl. Ketiganya bisa diterjemahkan secara sederhana menjadi dusta, amalan dusta dan kebodohan. Namun jika dirinci, ketiga kata ini mencakup banyak hal.


  1. Bohong
Bohong atau dusta adalah hal yang diharamkan Allah baik dalam kondisi puasa atau tidak. Jika dilakukan saat puasa, maka bohong atau dusta bisa menghilangkan pahala puasa.

Larangan berbohong saat berpuasa telah disebutkan dalam hadits berikut ini,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

Zuur yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dusta. Berdusta dianggap jelek setiap waktu. Namun semakin teranggap jelek jika dilakukan di bulan Ramadhan. Hadits di atas menunjukkan tercelanya dusta. Seorang muslim tentu saja harus menjauhi hal itu.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnul ‘Arabi,

مُقْتَضَى هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ لَا يُثَابُ عَلَى صِيَامِهِ ، وَمَعْنَاهُ أَنَّ ثَوَاب الصِّيَام لَا يَقُومُ فِي الْمُوَازَنَةِ بِإِثْم الزُّور وَمَا ذُكِرَ مَعَهُ

“Konsekuensi dari hadits tersebut, siapa saja yang melakukan dusta yang telah disebutkan, balasan puasanya tidak diberikan. Pahala puasa tidak ditimbang dalam timbangan karena telah bercampur dengan dusta dan yang disebutkan bersamanya.” (Fath Al-Bari, 4: 117)

Al-Baidhawi menyatakan,

لَيْسَ الْمَقْصُود مِنْ شَرْعِيَّةِ الصَّوْمِ نَفْس الْجُوعِ وَالْعَطَشِ ، بَلْ مَا يَتْبَعُهُ مِنْ كَسْرِ الشَّهَوَات وَتَطْوِيعِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ لِلنَّفْسِ الْمُطْمَئِنَّةِ ، فَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ لَا يَنْظُرُ اللَّه إِلَيْهِ نَظَر الْقَبُولِ

“Bukanlah maksud syari’at puasa adalah menahan lapar dan dahaga saja. Dalam puasa haruslah bisa mengendalikan syahwat dan mengatur jiwa agar memiliki hati yang tenang. Jika tidak bisa melakukan seperti itu, maka Allah tidaklah menerima puasa tersebut.” (Fath Al-Bari, 4: 117)


  1. Puasa Tanpa Mengerjakan Shalat
Puasa ramadhan dan shalat adalah ibadah yang diwajibkan dan merupakan ibadah yang saling berkaitan. Apabila hanya melakukan puasa saja tanpa melakukan ibadah shalat, maka puasa yang dikerjakan tidak sempurna dan hanya merugikan diri sendiri. Pasalnya selama ini, kita banyak menjumpai orang–orang mengerjakan ibadah puasa tanpa mengerjakan ibadah shalat. Dan sesungguhnya shalat adalah tiang agama dan merupakan amal ibadah yang pertama kali ditanyakan di akhirat nanti dan apabila amal shalatnya rusak maka amal ibadah yang lain ikut rusak.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadist :

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”


  1. Marah
Marah adalah suatu bentuk luapan emosi karena seseorang mengikuti hawa nafsunya. Marah merupakan perbuatan yang sangat dilarang bagi seluruh umat islam. Dan seseorang yang dapat menahan marah maka balasannya syurga.

Hal ini dijelaskan dalam hadist:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

“Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: (Wahai Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Ia menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.” (Riwayat Bukhari).


  1. Menggunjing ( menggosip )
Menggunjing atau menggosip adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh para kaum wanita sekalipun kaum laki-laki juga pernah melakukannya, namun sesungguhnya menggosip adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Allah SWT menjelaskan tentang gambaran orang menggunjing:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

‘Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. AL-Hujurat: 12).


  1. Sumpah dan Kesaksian palsu
Termasuk jenis kebohongan adalah sumpah palsu. Bahkan sumpah palsu merupakan dusta yang tingkaannya lebih tinggi karena membawa nama Allah dalam berbohong.

Adakalanya seseorang menjadi saksi untuk suatu perkara lalu ia memberikan kesaksian palsu. Maka ini juga termasuk bentuk dari kebohongan.

وعن أبي بكرة نفيع بن الحارث رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ – ثلاثاً – قلنا: بلى يا رسول الله، قال: الإشراك بالله، وعقوق الوالدين، وكان متكئاً فجلس، فقال: ألا وقول الزور وشهادة الزور فما زال يكررها حتى قلنا: ليته سكت. متفقٌ عليه.

“Dari Abu Bakrah Nufai’ bin Al-Harits radhiyallahu ‘anhu [1], beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Maukah kamu aku beritahukan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?” – diulangi hingga tiga kali [2]- Kami menjawab,” Tentu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, ” menyekutukan Allah dan durhaka terhadap kedua orang tua.” Sedangkan beliau [pada waktu itu] dalam keadaan bersandar, lalu beliau duduk kemudian meneruskan sabdanya, “Ketahuilah! dan perkataan palsu dan kesaksian palsu.” Beliau terus-menerus mengulanginya sampai-sampai kami berkata,” Andai saja beliau diam”. (Muttafaqun ‘alaihi).


  1. Fitnah
Memfitnah orang lain juga merupakan bentuk dari kebohongan. Jika bohong adakalanya dampak langsungnya kecil, fitnah umumnya berdampak besar. Fitnah adalah tuduhan (kabar, kisah dan lain-lain) yang diada-adakan (dibuat-buat) untuk memburukkan atau membencanakan seseorang.

Sebagaimana firman Allah SWT:

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. “(Q.S. AL-Qalam: 10-11).

Ia bisa menghancurkan nama baik seseorang, membunuh karakter seseorang, bahkan bisa membuat orang yang difitnah masuk penjara atau dihukum mati.


  1. Mengkhianati amanah
Terutama jika seseorang memiliki jabatan baik di organisasi, perusahaan maupun pemerintah. Seharusnya ia membawa kebaikan untuk orang lain, seharusnya ia memakmurkan masyarakat tetapi justru berbuat sebaliknya. Merugikan masyarakat dan menyengsarakan rakyat.


  1. Rafats, Bayangan syahwat Dan Melihat aurat lawan jenis atau melalui gambar dan film
Rafats maksudnya adalah bentuk kata-kata atau tulisan yang mengarah pada pembangkitan syahwat. Porno, dalam istilah sekarang. Ini juga termasuk menghilangkan pahala puasa karena menurut Imam Tirmidzi. Membayangkan hal-hal yang bersifat rafats dan membangkitkan syahwat juga bisa menghilangkan pahala puasa. Pandangan mata ke arah aurat lawan jenis atau hal-hal yang membangkitkan syahwat juga termasuk menghilangkan pahala puasa. Termasuk juga jika berbentuk gambar dan film.